Rabu, 19 Desember 2007

Fwd: Potretmu

--- In komunitas_merapi@yahoogroups.com, "dialamaria"
<dialamaria@...> wrote:

Potretmu

Aku mencarimu. Ya, aku mencarimu sampai jauh. Bertahun-tahun sudah
mungkin aku mencari. Aku tak punya fotomu, dulu. Jadi waktu itu aku
tak tau seperti apa rupamu. Aku pernah mendengar ada seseorang yang
bilang padaku, "kalau kau menyimpan sesuatu hingga dalam sekali ke
lubuk hatimu, kau tak memerlukan sebuah potret sekalipun untuk
mengingatnya." Kupikir, mungkin karena itu aku tak memerlukan
potretmu. Mereka bilang itu yang namanya iman.

Aku berjalan. Pernah aku berjalan kaki hingga jauh sekali – aku tak
tau, apa dan siapa yang kucari waktu itu. Yang kutahu sepertinya aku
sedang mencari sesuatu. Ya, sepertinya begitu. Hingga kakiku berhenti
di suatu tempat, di perpustakaan itu. Begitu kusadari, ya aku tahu
mungkin di hari itulah aku menemukanmu. Seingatku sih, kau sedang
duduk membaca buku. Ya, aku ingat, kau sedang duduk dengan tenang
membaca buku. Tentu saja kau tak memperhatikanku. Sesuatu yang jauh di
lubuk hatiku mengatakan sesuatu, ya itu kau, kau yang kucari,
mungkinkah? Setidaknya aku bisa merasakan sesuatu yang bicara di
hatiku, itu kau. Tapi, bagaimana bisa kujelaskan padamu. Pastinya tak
mungkin. Rasanya aneh sekali kalau tiba-tiba aku muncul di hadapanmu
lalu mengatakan sesuatu, "Hai kamu yang kucari sudah lama sekali." Ya
sudahlah, kupikir kau tak membutuhkan penjelasan dariku. Apalagi itu
cuma aku yang merasa saja. Tak penting untuk diketahui siapapun.

Lalu seseorang datang menghampirimu. Sesaat aku terpaku. Tanpa kau
sadari – mungkin – kau sedang menoleh ke arahku. Ya benar! Suatu
keyakinan merayapi pikiranku. Ya, itu..senyum itu..senyummu yang
kukenal di dalam hatiku. Kau tak tahu, ketika menjabat tangan
perempuan yang menghampirimu, tak nampak jelas tapi kupastikan ia
sedang tersenyum menyapamu. Padahal senyum yang lain sedang
bersembunyi, hanya beberapa meter saja dibalik punggungnya. Senyum itu
milikku, mungkin pastinya tak sempat terlihat olehmu. Ada jarak.
Selain bahwa aku adalah orang asing buatmu, rak-rak buku itu
menghalangi pandangan.

Aku bahagia hanya sekedar mengingat senyummu. Ketika itu kuputuskan
untuk segera berlalu. Aku tak mengizinkan potretmu, sebuah senyuman
itu berganti cerita di dalam pikiranku. Aku tak mengizinkan kesedihan
menghampiriku karena menyadari aku hanya seorang asing bagimu,
meskipun senyumanmu tidak, bagiku. Ya, potret tentang sebuah senyuman,
kupikir itulah yang selama ini kucari. Dan untuk itu, aku hanya
membawanya bagi diriku. Sebuah potret tentang senyumanmu dalam
ingatanku. Anehnya, semenjak itu tak pernah terbersit keinginan
sedikitpun untuk mencarimu. Bahkan untuk sekedar mencari tahu siapa
dirimu. Aku juga tak lagi datang ke perpustakaan itu. Aku lebih suka
mencari buku-buku untuk kusimpan dan kubaca sendiri. Sejak itu,
gambaran figurmu, rupamu perlahan-lahan memudar dari ingatanku. Tapi
tidak senyummu. Setiap kali aku melintasi gedung perpustakaan itu,
seakan-akan senyummu seperti hantu yang mengikuti langkah-langkahku.
Tapi itu baik, setidaknya setiap kali minat membacaku turun, aku
mengingat senyummu. Lalu aku bisa tersenyum, dan meraih buku.
Membaca.

Aku pikir, aku memiliki senyuman semacam itu selamanya, waktu aku
mendengar seseorang mengatakan padaku bahwa ia akan mencintaiku seumur
hidupnya. Waktu mendengar itu, aku melupakanmu. Aku tak mau hanya
memiliki sekedar ingatan tentang sebuah senyuman. Aku ingin memiliki
senyum itu yang tergurat di wajahnya, di wajah kami. Kupikir,
bersamanya akan selalu membuatku memiliki senyuman. Ya potret di
hatiku yang membuatku percaya untuk selalu bisa berjalan. Berjalan
terus, terus berjalan di dalam hidup. Aku salah. Senyumnya adalah
miliknya, senyummu adalah milikmu sendiri. Ia tak selalu bisa
tersenyum. Begitu juga aku.

Perjalanan yang kutempuh di dalam waktu, akhirnya membuatku berjabat
tangan denganmu. Bukan di perpustakaan itu. Aneh sekali, semua
kebetulan di dalam hidup. Sejujurnya aku lupa, karena sudah lama
sekali. Tapi ketika kau tersenyum sewaktu menjabat tanganku, hatiku
bergetar. Pandanganku terpaku pada senyuman itu. Sebuah guratan di
wajahmu yang lama terkubur jauh di dasar hatiku. Suatu rasa yang
membawaku kembali tentang kenangan lugu, di balik buku-buku yang
tersusun rapi di rak perpustakaan itu. Sulit kujelaskan. Ya, itu kau.
Aku yakin sekali, itu kau yang sama, seseorang yang tersenyum di
perpustakaan di hari itu berpuluh-puluh tahun yang lalu. Keluguan itu
entah hinggap di ruang yang mana di dalam hatiku, rasanya seakan-akan
pergi, atau menguap ke udara. Sesuatu menghinggapi pikiranku. Sudah
banyak waktu yang kubiarkan berlalu tanpa cerita apapun di balik
senyummu.

Tentu saja, akhirnya ada cerita yang melengkapi potret senyummu itu.
Karena akhirnya aku mengenalmu. Karena kau bercerita sendiri, karena
kita bercakap-cakap, atau aku mendengar tentangmu, meskipun bukan
darimu. Gairah keingintahuan merangkai sebuah cerita dibalik senyummu.
Aku merangkainya satu-persatu seperti sebuah puzzle yang
kepingan-kepingannya berserakan. Hingga akhirnya aku merasa begitu
tersesat, sesuatu telah mengisi suatu ruang yang sebelumnya kosong
tentang kisah sebuah potret dibalik senyumanmu. Tetapi ruang itu tak
sanggup lagi kuisi penuh. Aku menangis, aku tertawa karenanya. Derai
tawa dan air mata yang hanya aku sendiri yang tahu. Aku mendapatkan
potretmu dan kisah yang kurangkai sendiri tentang misteri senyumanmu
itu.

Sebuah penyesalan menghampiriku ketika sebongkah kebahagiaan merangkai
kisah itu memberiku kesadaran baru. Penyesalan bahwa aku tak akan
pernah bisa menceritakan pada siapapun, apalagi menunjukkannya, kisah
yang kurangkai tentang senyummu. Senyum yang selalui menghantuiku,
ilusi yang melenakan pikiranku. Kebahagiaan bahwa kusadari, tak
penting lagi untuk mengharapkan kau selalu tersenyum seperti menjadi
suatu keharusan di dalam pikiranku, seperti yang selalu kuyakini di
lubuk sanubariku. Buatku, kau tak lagi harus tersenyum. Karena aku
mencintaimu, seperti apapun potretmu. Kurasa begitu.

Aku tak lagi ingin mencari sisa kepingan puzzle untuk melengkapi
gambaran kisah di balik potretmu. Ya, aku punya potretmu yang
sesungguhnya kini. Kusimpan di dalam album bersama foto-foto yang
lain. Album foto itu, aku jarang membukanya. Meskipun begitu, aku
tetap memiliki potretmu dalam hatiku. Kau yang tak harus selalu
tersenyum, meskipun aku mencintai senyummu. Aku tahu, aku miliki
sesuatu, bukan kau, bukan juga senyummu. Rasa damai, itu yang ingin
selalu kumiliki, seperti ketika kesejukan menghinggapi hatiku yang
lugu sewaktu melihat senyummu – di hari itu – di perpustakaan itu.
Menemukan kesejukan di dalam diriku, aku tahu perjalanan mencari
potretmu telah selesai. Aku tak pernah menyesalinya. Aku berdamai
dengan hatiku. Menemukanmu sebagai potret iman di dalam hidupku, tak
bisa kulukiskan apa itu, aku hanya menemukan keindahan hidup.

Baru kusadari, aku memiliki senyumku sendiri, aku lupa memotretnya di
dalam ingatanku sendiri, meskipun foto-fotoku tersusun rapi di dalam
album, atau di pigura yang mengisi dinding kamarku. Kisah yang membuat
kita semua tersenyum dibalik semua potret itu. Aku tahu, tak mungkin
aku memiliki senyummu, atau senyum siapapun. Karena itu milikmu.
Senyum yang memancar dari hati, bukan dari pikiran. Mereka
menyebutnya, ketulusan, keikhlasan. Tapi aku tahu, aku bisa tersenyum,
sepertimu. Kini.

--- End forwarded message ---

Tidak ada komentar: